Thekalimantanpost
RENUNGANšš½
MARI KETIKA ALAM TURUT DIAJAK BICARA
š
Di tengah langit yang diselimuti asap, ketika hutan terbakar dan kehidupan terancam, masyarakat Dayak tidak hanya melihat Karhutla sebagai bencana. Mereka juga melihatnya sebagai tanda bahwa hubungan manusia dengan alam harus kembali direnungkan.
Bagi masyarakat Dayak, alam bukan sekadar tanah untuk diinjak, hutan untuk ditebang, sungai untuk dieksploitasi, atau lahan untuk dibakar tanpa batas. Alam adalah ruang kehidupan. Hutan memberi napas, sungai memberi kehidupan, tanah memberi penghidupan, dan manusia hidup di dalamnya sebagai bagian dari satu kesatuan.
Karena itulah, ritual adat yang ditampilkan dalam gambar ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar upacara. Ada doa, harapan, penghormatan kepada leluhur, dan permohonan agar keseimbangan antara manusia dan alam tetap terjaga.
Inilah bukti bahwa bangsa Dayak memiliki kedekatan spiritual dan kultural dengan alamnya.
Bukan karena bangsa Dayak paling hebat dibandingkan bangsa lain.
Bukan untuk mendiskriminasi siapa pun.
Bukan pula untuk mengagungkan sukuisme.
Ini adalah wujud nyata dari cara pandang hidup yang diwariskan turun-temurun: manusia tidak berada di atas alam, tetapi hidup bersama alam.
Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Ketika sungai tercemar, yang terluka bukan hanya air. Ketika tanah rusak, yang terancam bukan hanya lingkungan.
Yang ikut terbakar adalah ruang hidup manusia.
Yang ikut tercemar adalah masa depan.
Yang ikut terancam adalah kehidupan generasi yang belum lahir.
Maka, ketika ritual adat dilakukan sebagai ungkapan permohonan agar Karhutla segera berhenti, maknanya bukan sekadar meminta hujan turun dari langit.
Makna yang lebih besar adalah mengingatkan manusia untuk berhenti merasa sebagai penguasa alam.
Sebab alam yang terlalu lama dilukai, pada akhirnya akan memberikan peringatan.
Dari tanah Dayak, kita belajar satu hal:
Kearifan lokal bukan penghalang kemajuan.
Kearifan lokal adalah ingatan manusia tentang bagaimana menghormati kehidupan.
Karena bagi kami,
HUTAN BUKAN SEKADAR KAYU.
TANAH BUKAN SEKADAR LAHAN.
SUNGAI BUKAN SEKADAR AIR.
SEMUA ADALAH KEHIDUPAN.
Dan mungkin, ketika manusia modern terlalu sibuk berbicara tentang pembangunan, kita perlu kembali mendengarkan suara lama dari hutan Kalimantan:
JANGAN BIARKAN API MERAMPAS KEHIDUPAN.
HENTIKAN KARHUTLA.
SELAMATKAN HUTAN.
JAGA ALAM.
JAGA KEHIDUPAN.
Sebab kita tidak mewarisi bumi ini dari leluhur untuk menghabiskannya, tetapi meminjamnya dari anak cucu untuk menjaganya.
SALAM ADAT BUDAYA
DARI TEMBAWAI KELOHKAK
SINTANG ā KALBAR
(MINGGU, 30 AGUSTUS 2026)
#HentikanKarhutla #SelamatkanHutan #DayakDanAlam #KearifanLokal #JagaKalimantan #JagaHutan #JagaKehidupan #Kalimantan












