A HEAD OF BORNEO DAN KARHUTLA 2026 DI KALIMANTAN

Oleh: Victor Emanuel

Thekalimantanpost

Ketika Asap Menjadi Cermin Cara Kita Memperlakukan Borneo

Tembawai Kelohkak, Sintang–Kalbar
1 September 2026
Kalimantan kerap disebut “Head of Borneo”—kepala Pulau Borneo. Sebutan ini bukan sekadar persoalan geografis. Di baliknya terdapat pesan ekologis: apa yang terjadi di Kalimantan dapat membawa konsekuensi bagi kehidupan Borneo secara keseluruhan.
Karhutla 2026 kembali memperlihatkan bahwa persoalan api tidak sesederhana mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Karhutla merupakan persoalan ekologis yang memiliki banyak variabel: kemarau, kondisi gambut dan lahan, perubahan tutupan lahan, tata ruang, aktivitas manusia, tata kelola, hingga kesiapsiagaan menghadapi risiko kebakaran.
Karena itu, pertanyaan yang lebih cerdas bukan hanya “siapa yang membakar?”, tetapi juga “mengapa api dapat berkembang menjadi bencana?”

Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar mencari pelaku menuju mencari akar persoalan.
Tidak semua api adalah karhutla, dan tidak setiap pembakaran lahan otomatis menjelaskan seluruh fenomena karhutla. Sebaliknya, setiap bentuk pengelolaan lahan harus ditempatkan dalam koridor hukum, keselamatan, daya dukung lingkungan, pencegahan kebakaran, dan tanggung jawab ekologis.

Di sinilah pentingnya meninggalkan pendekatan saling menyalahkan. Peladang, perusahaan, pemerintah, masyarakat, maupun pemangku kepentingan lainnya memiliki ruang tanggung jawab yang berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu kepentingan: mencegah api berubah menjadi bencana.

Kalimantan membutuhkan pencegahan, bukan sekadar pemadaman; tata kelola, bukan sekadar penindakan; dialog, bukan saling tuding; serta ilmu pengetahuan yang berjalan bersama kearifan lokal.
Sebab asap yang kita hirup hari ini bukan hanya persoalan udara. Ia adalah cermin dari hubungan manusia dengan tanah, hutan, dan ruang hidupnya.

Jika Kalimantan adalah “Head of Borneo”, maka menjaga Kalimantan berarti menjaga salah satu penyangga kehidupan Borneo.
Jangan hanya bertanya siapa yang menyalakan api.
Mari bertanya mengapa api bisa menjadi bencana.
Dari sanalah solusi yang adil, rasional, dan berkelanjutan harus dimulai.

Kalimantan bukan sekadar kepala Borneo.
Kalimantan adalah bagian penting dari jantung kehidupan Borneo.
— Victor Emanuel
Tembawai Kelohkak, Sintang–Kalbar
1 September 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *