“resensi buku”
Kita mengklaim bahwa buku ini adalah buku pertama yang pernah terbit, yang menguraikan data geografi Hindia Belanda. Data geografi itu menarasikan sebagian besar kawasan Borneo. Ada nama-nama yang masih eksis, ada yang berubah, ada yang hilang.
Sepang – ketika disebutkan nama ini maka orang Kahayan akan merinding. Jangan salah, Sepang juga ada di Sambas. Di Kahayan, Sepang pada tahun 1850 hanya berisi 10 rumah, yang dihuni 300 manusia ( _artinya 1 rumah berisi 30 orang, masak harus pakai periuk besar_ ). Sedangkan Simin adalah kawasan sungai. Sepang di Sambas adalah kawasan Afdeling yang banyak orang Cina.
Orang Ngaju atau Biaju pada masa itu masih sebagai pelaut tangguh, bahkan jadi perompak di lautan. Kamus geografi mencatat pulau Si-Koeboeng – kawasan di timur laut Borneo sebagai tempat orang-orang Biaju membuat kapal untuk berlayar dan merompak di laut.
Kampung Rawi disebut juga Raweh, Buntoi juga disebut Bondai. Data kontroleur paling rapi adalah kerajaan Sanggau – hampir semua kampung yang disebutkan disertai jumlah penduduk. Sungai Sekayam pada tahun 1850 hampir 100 persen berpenduduk Dayak, demikian juga sungai Kedukul.
Sukadana pada zaman Majapahit dan Demak adalah kerajaan ramai dengan bandar dagangnya. Tapi di tahun 1850, kerajaan ini mengecil karena kehadiran kerajaan Pontianak dan Simpang.
*Kerajaan Sintang* di tahun 1850 berpenduduk : Dayak 52.000 orang, Melayu 4.500 orang, Cina 320 orang, Arab 15 orang.
*Kerajaan Simpang* di tahun 1850 berpenduduk : Dayak 12.000, Melayu 3.400 orang, Cina 30 orang.
*Kerajaan Silat* yang berada di ulu Kapuas Buhang berpenduduk Dayak 9.630 orang, Melayu 300 orang, 70 Cina.
*Kerajaan Sekadau* berpenduduk Dayak 13.000 orang, Melayu 1.300 orang, Cina 400 orang.
*Kerajaan Sanggau* berpenduduk Dayak 26.750 orang, Melayu 3.000 orang, Cina 250 orang.
Bagimana dengan kerajaan Sambaliung, Gunung Tabur, Berau, Brunei, Serawak, Kutai, Pasir, Manunggul, Batu Licin, Kotawaringin, Matan, Mempawah, Landak, Sambas, Tayan, Suhaid? Tentu saja dikupas secara akurat!
Bagimana dengan kerajaan Banjar? Ini kerajaan besar yang dihapuskan residen Banjarmasin tahun 1860. Sehingga tidak disebutkan sebagai kerajaan saat data-data geografi diterbitkan. Banjarmasin disebut kawasan resident, Amuntai disebut kawasan asisten residen.
Pedagang Cina hampir ada di semua kawasan – kecuali Kahayan, Katingan, Mentaya. Di Kapuas Murung, pedagang Cina sampai ke Kuta Baru – di Kahayan hanya boleh sampai di Pilang, tidak boleh sampai ke Rawi. Di Bankalanbon (Pangkalan Bun) ada pedagang Cina.
Tapi ada Cina pekerja yang berpusat di Monterado, Sepang, Singkawang dan Mandor – sehingga tercipta Koloni Cina di Kalbar. Mereka datang sekitar tahun 1700-an dan bekerja di tambang-tambang milik raja.
**Red












