Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia memperlakukan alam.
Ketika kemarau datang, kita mengeluh karena panas. Ketika titik panas meningkat dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, kita resah. Ketika kabut asap menyelimuti permukiman, kita menuntut solusi. Ketika hujan datang, keluhan kembali muncul. Banjir terjadi, hujan sering menjadi pihak yang disalahkan.
Lalu, sebenarnya kita mau apa?
Pertanyaan ini penting, bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengajak kita melihat persoalan lingkungan secara lebih jernih.
Kemarau adalah bagian dari siklus alam. Hujan juga bagian dari siklus alam. Panas dan basah merupakan kenyataan ekologis yang tidak dapat kita hilangkan hanya dengan keluhan.
Persoalannya justru terletak pada bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya.
Kita sering melihat akibat, tetapi lupa memeriksa sebab.
Ketika pohon ditebang tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan, tutupan vegetasi berkurang. Ketika ruang terbuka dan daerah resapan air terus berubah fungsi, kemampuan tanah menyerap air ikut menurun. Ketika lahan dibakar secara tidak terkendali, asap menyebar dan kualitas udara terganggu. Ketika saluran air, sungai, rawa, dan ruang-ruang alami bagi air semakin sempit atau tertutup, air pada akhirnya mencari jalannya sendiri.
Kemudian ketika bencana datang, kita bertanya: mengapa alam menjadi seperti ini?
Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah: apa yang sudah kita lakukan terhadap alam sehingga akibatnya kembali kepada kita?
Alam Bukan Musuh Manusia
Alam tidak sedang menghukum manusia.
Alam tidak mempunyai agenda untuk menghukum kita ketika hujan turun deras, ketika kemarau menjadi panjang, atau ketika suhu meningkat.
Yang terjadi adalah hubungan sebab-akibat ekologis.
Apa yang kita lakukan terhadap lingkungan akan memengaruhi lingkungan itu sendiri dan pada akhirnya kembali memengaruhi kehidupan manusia.
Karena itu, tidak tepat jika setiap persoalan lingkungan semata-mata diletakkan sebagai kesalahan alam.
Hujan bukan penyebab tunggal banjir. Kemarau bukan satu-satunya alasan terjadinya karhutla. Demikian pula kabut asap bukan persoalan yang berdiri sendiri.
Ada tata kelola ruang, perilaku manusia, kebijakan pembangunan, pengelolaan lahan, kepatuhan hukum, kesadaran masyarakat, serta kapasitas pemerintah yang semuanya saling berkaitan.
Di sinilah persoalan lingkungan harus dilihat secara lebih utuh.
Jangan Hanya Menuntut Alam Berubah
Kita sering meminta alam menyesuaikan diri dengan kepentingan manusia.
Kita ingin membangun, tetapi tidak ingin kehilangan ruang hijau.
Kita ingin membuka lahan, tetapi tidak ingin menerima konsekuensi ekologisnya.
Kita ingin jalan, permukiman, perkebunan, dan berbagai aktivitas ekonomi berkembang, tetapi pada saat yang sama kita berharap banjir tidak terjadi, udara tetap bersih, sungai tetap sehat, dan suhu tetap nyaman.
Pertanyaannya sederhana: apakah semua keinginan itu dapat berjalan tanpa batas?
Tentu tidak.
Pembangunan membutuhkan ruang. Tetapi ruang juga memiliki daya dukung. Ketika daya dukung itu diabaikan, lingkungan akan memberikan respons.
Karena itu, persoalan lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknis. Ia juga merupakan persoalan moral, hukum, kebijakan, dan perilaku manusia.
Pemerintah Penting, Masyarakat Juga Penting
Tanggung jawab menjaga lingkungan memang tidak dapat dilepaskan dari pemerintah.
Pemerintah memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan, menata ruang, melakukan pengawasan, menegakkan hukum, menyediakan infrastruktur lingkungan, mencegah karhutla, serta memastikan pembangunan berjalan dalam batas-batas ekologis yang wajar.
Namun masyarakat juga tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab.
Tidak adil jika setiap persoalan lingkungan selalu diarahkan kepada pemerintah, sementara masyarakat merasa dirinya tidak mempunyai kewajiban.
Sebaliknya, tidak tepat pula jika pemerintah hanya meminta masyarakat menjaga lingkungan tanpa membenahi kebijakan, tata kelola, pengawasan, dan penegakan hukum.
Tanggung jawab ekologis harus ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama.
Negara mempunyai kewajiban melalui kewenangannya.
Masyarakat mempunyai kewajiban melalui perilakunya.
Pelaku usaha mempunyai tanggung jawab melalui kegiatan ekonominya.
Dan semuanya harus bergerak dalam satu prinsip: pembangunan tidak boleh menghilangkan kemampuan lingkungan untuk menopang kehidupan.
Saatnya Mengubah Cara Berpikir
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya, “Mengapa alam begini?”
Sudah waktunya kita menambahkan pertanyaan lain:
“Bagaimana perilaku kita terhadap alam?”
Perubahan lingkungan tidak cukup dijawab dengan menambah aturan.
Tidak cukup pula dengan membuat slogan.
Tidak cukup dengan melakukan penindakan setelah bencana terjadi.
Yang diperlukan adalah perubahan cara berpikir dan cara bertindak.
Kita harus mulai melihat sungai bukan sekadar sebagai saluran air.
Hutan bukan sekadar sumber kayu.
Tanah bukan sekadar tempat mendirikan bangunan.
Lahan bukan sekadar komoditas.
Dan alam bukan sekadar objek yang boleh digunakan sejauh menguntungkan manusia.
Alam adalah ruang kehidupan bersama.
Ketika hubungan manusia dengan alam dibangun hanya atas dasar eksploitasi, maka kerusakan lingkungan pada akhirnya akan menjadi persoalan sosial dan kemanusiaan.
Manusia Juga Harus Berubah
Karhutla, kabut asap, banjir, kekeringan, dan berbagai persoalan ekologis seharusnya tidak hanya membuat kita sibuk mencari siapa yang salah.
Kita juga harus berani mencari apa yang salah dalam cara kita mengelola lingkungan.
Sebab persoalan ekologis tidak akan selesai hanya dengan menunjuk orang lain.
Jika masyarakat harus berubah, pemerintah juga harus terus memperbaiki kebijakan.
Jika pemerintah harus bekerja lebih baik, masyarakat juga harus meningkatkan kepatuhan dan kesadarannya.
Jika dunia usaha membutuhkan kepastian untuk berinvestasi, investasi itu pun harus berjalan dalam koridor hukum dan daya dukung lingkungan.
Dengan demikian, pertanyaan “Mau apa kita, manusia?” bukan sekadar pertanyaan retoris.
Ia adalah pertanyaan tentang pilihan.
Apakah kita ingin terus memperlakukan alam sebagai sesuatu yang harus selalu menyesuaikan diri dengan keinginan manusia?
Ataukah kita mau belajar menyesuaikan cara hidup kita dengan batas-batas alam?
Sebab pada akhirnya, alam tidak membutuhkan manusia untuk tetap ada.
Manusialah yang membutuhkan alam untuk tetap hidup.
Karena itu, jangan hanya menuntut alam berubah.
Manusianya juga harus berubah.
Perubahan itu dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: berhenti menyalahkan alam untuk setiap akibat, lalu mulai berani memeriksa kembali cara kita memperlakukan alam.
Salam Akal Sehat Kami.
Semoga yang membaca juga berakal sehat.
**Dari Tembawai Kelohkak
Sintang, Kalimantan Barat
16 September 2026












